Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Amsal 1:1-4 Menjadi Berhikmat

Renungan Amsal 1:1-4 Menjadi Berhikmat

Amsal 1:1-4 (TB) Amsal-amsal Salomo bin Daud, raja Israel.

Untuk mengetahui hikmat dan didikan,

Untuk mengetahui kata-kata yang bermakna, 

untuk menerima didikan yang menjadikan pandai

Serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, 

Untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan 

Pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda 

Salamo adalah seorang raja Israel yang sangat berhikmat dan setiap kata-katanya membawa kita pada realitas dari kehidupan dan hikmat umum kehidupan. Amsal masih sangat relevan bagi kita hari ini. Sebagai dasar-dasar dari cara melihat, cara berpikir dan cara kita merespon setiap kejadian ada di kehidupan.

Dalam bagian ini, mengajak kita bersama-sama mengetahui tujuan dari tulisan Amsal Salomo. Untuk menjadi seseorang yang memiliki hikmat. Apa itu hikmat? Kita perlu tahu bahwa dari arti kata hikmat adalah keahlian seseorang dalam hal melakukan sesuatu. Dan Amsal Salomo membawa kita pada kebijaksanaan yang tidak dapat dilepaskan kebijaksanaan TUHAN.

Dialah hikmat itu sendiri, sumber dari segala kebijaksanaan di muka bumi ini. Karena itu Amsal juga membawa kita pembaca hari ini untuk masuk ke dalam pengenalan akan Allah untuk menerima didikan-Nya. Ketika kita mengenal Allah yang Kudus, pada saat yang sama kita dibukakan satu fakta bahwa kita adalah orang berdosa.

Kesadaran akan keberdosaan inilah, membawa kita ke dalam ruangan pendisiplinan Allah itu sendiri. Mengapa manusia sangat perlu dididik, karena manusia itu bodoh, sejak dalam kandungan ibu itu, kita telah hidup dalam perbudakan dosa. Semua kecenderungan kita adalah melakukan apa yang salah di hadapan Allah.

Amsal Salomo pada dasarnya, membawa kita untuk hidup melakukan apa yang benar di hadapan Allah. Kita perlu tahu siapa Allah, apa yang Dia telah kerjakan dan inginkan dari kehidupan kita. Dan didikan itulah jalannya, didikan Allah itu berat, namun sangat manis seperti madu. Sekali saja anda merasakan manisnya didikan Allah. Manisnya dosa begitu busuk bagi hati dan pikiran anda.

Menarik ketika kita mempelajari arti lain dari kata Pandai dalam bahwa Ibrani “Sakal” dapat juga diartikan sebagai keberuntungan, keberhasilan. Jadi tujuan dari didikan Allah adalah keberhasilan dan keberuntungan. Namun tidak hanya sampai di sini dan bagi diri kita sendiri. Kita perlu tahu tujuan utama kita sebagai orang percaya dan untuk mengetahui tujuan itu kita perlu melihat keseluruhan pengajaran Alkitab tentang keberhasilan dan keberuntungan seperti apa yang dimaksud. 

Keberhasilan dalam Kekristenan, bukan didasarkan pada kekuatan maupun hikmat manusia. Melainkan pada kasih karunia, hikmat sejati tidak secara alami hadir dari dalam diri manusia. Itu adalah pemberian Tuhan. Saudaraku hikmat itu adalah Pribadi, mengacu pada Perjanjian Baru. Hikmat itu adalah Yesus Kristus.

Dialah hikmat sejati, di mana Allah menjadi manusia untuk menebus manusia dari dosa dan kutuk hukuman dosa. Yesus menjadikan diri-Nya dosa untuk menggantikan kita yang seharus binasa. Inilah keberhasilan yang dimaksudkan dalam Alkitab, bukan kita yang berhasil untuk taat kepada Allah Bapa, melainkan Yesus sendirilah yang telah berhasil hidup taat berdasarkan segala hikmat yang ada dalam diri-Nya.

Keberhasilan karena keselamatan yang Yesus kerjakan bukanlah untuk diri-Nya sendiri, melainkan untuk memberikan kepada kita hidup yang baru. Yaitu kehidupan yang tidak lagi diperbudak oleh dosa. Kehidupan yang memiliki hubungan dengan Allah secara langsung melalui Yesus Kristus. 

Keseluruhan kesempurnaan karakter yang kita pelajari di kitab Amsal, seperti kebenaran, kejujuran dan keadilan. Ada pada Yesus, Dialah Sang Kebenaran (Yoh. 14:6). Dialah Allah yang adil karena keadilan itu perlu ditegakkan untuk menyelamatkan manusia yang binasa, maka Dia memberikan diri-Nya menerima hukuman dosa. Karena setiap dari kita tidak akan bisa menanggung hukuman dosa yang seharusnya kita terima. Inilah Injil dasar dari ajaran Kekristenan. Keselamatan hanya oleh kasih karunia.

Selanjutnya kita benar-benar perlu tahu, konteks dari Amsal pada dasarnya merupakan buku ajaran bagi anak-anak remaja laki-laki bangsa Israel. Karena itu buku ini selalu mengarahkan ajarany pada seorang laki-laki terutama anak muda. Pengetahuan yang paling utama di sini adalah pengetahuan akan Allah, kita perlu mengenal Allah. Anak-anak muda Israel diajarkan untuk mengenal Allah mereka.

Kebijaksaanaan yang dimaksudkan berasal dari Allah, bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk menyembah Allah, dipuaskan dalam Dia dan memuliakan Dia. Melakukan hal-hal yang benar di keluarga dan Masyarakat. Dalam konteks kita sekarang, Amsal membawa kita pada Injil, tentang Yesus Kristus, semakin anda dan saya membangun relasi dengan Yesus melalui doa, mempelajari Alkitab, pelayanan, dan kehidupan penuh kasih dalam keluarga dan Masyarakat. Kita semakin hidup untuk semakin menjadi serupa dengan Yesus. Amin.

Posting Komentar untuk " Renungan Amsal 1:1-4 Menjadi Berhikmat"