Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Amsal 1:5-7 Takut Akan Tuhan

Renungan Amsal 1:5-7 Takut Akan Tuhan


Amsal 1:5-7 (TB) baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu

dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan –

untuk mengerti amsal dan ibarat,

perkataan dan teka-teki orang bijak.

 Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan,

tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.

Setelah kita belajar tujuan dari Amsal Salomo, kita dibawa dengan suatu perintah. Jika kita melakukan perintah itu, maka kita disebut orang bijak yang mendengar dan suka menambah ilmu bahkan memperoleh berbagai pengertian. Lalu untuk apa berbagai pengertian itu untuk kehidupan nyata. Amsal menyebutnya untuk bahan pertimbangan. 

1. Bahan Pertimbangan

Orang bodoh bertindak lalu berpikir, setelahnya ia benar-benar menyesal. Setiap kita akan jatuh ke dalam lubang kebodohan yang sama. Setiap kita seringkali bertindak sebelum berpikir dan menyesalinya setelah konsekuensi begitu berat kita rasakan. Dalam berbagai bidang kehidupan jika kita menggambil Keputusan tanpa mempertimbangkan dampaknya. Maka seringkali itu akan membawa malapetaka bagi diri sendiri bahkan keluarga.

Saya beri contoh di dunia modern hari ini, seseorang bertindak lebih jauh untuk melakukan judi online karena ia tidak mempertimbangkan kemiskinan yang akan menimpa kemudian hari. Seringkali juga pengambilan Keputusan disertai dengan nafsu untuk cepat menikmati kepuasan, kesuksesan. Seperti saya ingin cepat menikah, padahal mental dan keuangan belum siap. 

Saya ingin cepat kaya, maka saya berinvestasi di salah satu aplikasi karena dijanjikan bunga 60 persen dalam sehari. Semua hal yang menawarkan kekayaan instan, kenikmatan instan, selalu berujung pada malapetaka. Inilah cara dunia bekerja dan di sinilah hikmat bekerja untuk orang-orang bodoh seperti anda dan saya. 

Saya ingin memperjelas bagian ini, bahwa akar dari segala kebodohan adalah keinginan duniawi nafsu daging yang berdasarkan pada natur berdosa kita, sejak kita ada dalam kandungan. Dan Amsal melewati frasa “bahan pertimbangan” dalam Bahasa Ibrani “tachbulah” atau diucapkan dalam Bahasa Indonesia takh-boo-law. Yang memiliki arti: perencanaan, bahan pertimbangan, pimpinan, pimpinan-Nya, siasat, tujuan.

Akar dari semua hal ini adalah pemikiran yang terarah pada Injil. Dan di dalam Perjanjian Baru kita menemukan satu kebenaran yang berakar dari pikiran yang telah diubahkan oleh Injil. “berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Rom 12:12)

Itu adalah perintah, untuk hidup penuh perencanaan, untuk meminta pimpinan Tuhan sebelum memutuskan apa yang harus dilakukan, bagaimana bertindak. Jadi Amsal kali ini Kembali membawa kita berpusat pada kehendak Allah, di dalam segala bidang kehidupan. Biarlah semua itu untuk mengerjakan kehendak Allah, apa yang baik dan memuliakan Kristus.

2. Hidup yang takut akan Tuhan

Orang bodoh menghina didikan, sehingga jalan-jalan yang mereka bangun dan setiap tujuan mereka sia-sia. Karena tidak bernilai kekal, semuanya untuk dihabiskan dalam dunia fana, untuk kepuasan daging, nafsu jahat dan segala keinginan yang tidak sesuai kehendak Tuhan. Tujuan mereka memuji diri sendiri, melakukan kehendak sendiri, dan merekalah tuhan atas diri mereka sendiri.

Kita juga dahulu hidup dengan cara yang demikian, sebelum kita mengenal Yesus dan menyerahkan seluruh hidup dalam kasih karunia Tuhan. Namun ketika kita telah hidup dalam Kristus, hidup yang kita Jalani adalah hidup yang takut akan Tuhan, hidup yang memiliki Persekutuan dengan Tuhan, hidup untuk memuliakan Dia.

Setiap pengetahuan kita, untuk hidup mempertimbangkan segala sesuatu dalam hidup, berasal dari hikmat Tuhan. Bukan lagi diri kehendak diri sendiri yang dikuasai oleh nafsu dunawi. Merencanakan hidup, untuk mengerjakan kehendak Allah, kita dapat tahu kehendak Allah, melalui Alkitab. 

Rasa takut kita lahir dari rasa hormat, karena kita mengenal Yesus Kristus, kita tahu bahwa upah dosa adalah maut. Dan kita layak menerima muat kekal, namun Yesus telah disalibkan menggantikan maut yang seharusnya kita terima. Inilah dasar dari rasa takut kita, kita tahu hidup ini untuk memuliakan Allah, jika kita tidak hidup untuk memuliakan Dia kita binasa. Maka hidup Kekristenan adalah pertobatan, permbangkanlah kebenaran ini. Untuk hidup yang bertobat.

Kehidupan Rohani kita, merupakan tujuan dari setiap pertimbangan dan Tindakan yang kita ambil. Apakah hal itu sesuai dengan firman Tuhan, apakah hal itu untuk memuliakan Allah, apakah kita dapat semakin bertumbuh adalah iman, pengharapan dan kasih kepada Allah dan sesama. Tanyakan dan pertimbangkanlah berdasarkan isi Alkitab Anda. Amin.

Posting Komentar untuk " Renungan Amsal 1:5-7 Takut Akan Tuhan "